Selasa, Januari 20, 2009

New SpringWidget

Visit the Widget Gallery

Jumat, Desember 26, 2008

Momen Wishkas 2008

Hehehe... this is our first winning in joint-competition.

Saya dan teman saya, Aditya Wirabakti (http://profiles.friendster.com/24392964), mengikuti lomba Momen Wishkas yang diadakan oleh produsen makanan kucing Wishkas.
Saya yang sebenernya gak suka ikut-ikutan kuis berbau beli-produk-terlebih-dahulu, akhirnya tergiur melihat hadiahnya (hadiah utamanya liontin emas seberat 10gram),,, plus it needs photograph okay???

Jadi, saya memotret si Ilik dan Adit ini gak sembarangan.

First of all, of course I need to arrange the concepts.
Saya membayangkan pasti yang ikut lomba ini kebanyakan mbak-mbak, ibu-ibu, ataupun tante-tante. Paling mentok, anak kecil lah.

So... saya membuat konsep Adit ini sebagai benar-benar mahasiswa.. just like the way he was. Mahasiswa yang sibuk dengan dunia 'mengerjakan tugas'.
Jadilah Adit dan si Ilik ini saya gabungkan ke dunia mengerjakan tugas. Ilik sebagai kucing yang setia menemani sang majikan mengerjakan tugas, lalu membuat Adit terhibur dengan tingkahnya yang lucu.

Tapi pemotretan si Ilik dan Adit ini gak gampang lo!

Ilik yang bongsor ini galak banget sama siapapun yang belum dia kenal. Pemotretan berjalan alot, karena dia paranoid banget ngeliat aku yang memang jarang mampir ke rumahnya Adit. Belum lagi dia sangat anti dengan bunyi shutter kamera. Dikit-dikit noleh... trus ngambek. Adit biasanya merayunya dengan semangkuk Wishkas... tapi karena melahapnya cepet banget.. sebentar udah habis. Trus, sadar kamera lagi... trus ngambek lagi. Huff... susahnyaaa...

For those hard-works, we deserve 10 grams of gold liontine.
Alhamdulillah... thanks for everything God!

Visit our winning-announcement at

http://www.kucingkita.com/modules.php?name=whiskas&op=pg28
atau lebih detailnya di:
http://www.kucingkita.com/images/iklan/whiskas/200812/lit/348-Sby.jpg

Kamis, Oktober 30, 2008

Hunting Karapan Sapi di Pamekasan





I Am What I Am

Tak banyak yang dapat saya banggakan dari diri saya. Sumpe deh, suerr.
Physically, don’t! Gue gak pernah pede kalo dinilai secara bodi gitu. Lagipula, gak fair tauk! Males!
Mentally, just go ahead! Dibilang gue psikopat, gak juga. Tapi kadang gue seneng ngeliat orang menderita—gahhahaha!

Yang mungkin tak banyak orang tau, saya ini sangat rendah diri. I talked to myself, just to convince that I was heard. At least, by myself (karena saya tak tahu apakah orang lain mau mendengarnya). Soal saya yang terlihat talked ‘too much’, itu adalah sisi saya yang lain yang maunya diperhatikan orang lain (yaah, sanguin abisss).

That’s why this blog looked private, but this is blog dude! Everyone can read it.
Tapi, di satu sisi saya amat jujur, seakan-akan tak seorangpun boleh tahu. Di sisi lain, saya berharap dengan kejujuran itu orang-orang boleh tahu.
Teman saya saja sampai bilang, “Ih, blognya Artika mengharukan banget ya?”
“Hah?? Kamu baca yang mannaaa?”
“Semuanya.”
“Lhoh! Kok semuanya???”
“Ya gimana sih? Kalo itu rahasia, ngapain kamu taruh di blog?”
“…..”

Dan kejujuran saya itu sering dinilai orang lain salah tempat.
Kadang saya jengkel, karena ada orang yang beranggapan kejujuran saya itu tidak seharusnya diungkapkan. Kalau tadi saya mati kutu gara-gara nulis blog yang isinya pribadi banget, tapi kok gak mau dibaca secara luas… sekarang saya balik aja; kalo gitu, salah sendiri baca blog saya! Huh!

Beberapa orang juga berpendapat, bahwa blog itu seharusnya diisi oleh hal-hal yang bermanfaat. Bukan curhatan. Orang-orang seperti itu cenderung merasa lebih baik karena ia berbicara tentang tempat-tempat indah yang dia kunjungi—sesuatu yang dia rasa lebih memberikan manfaat karena memuat informasi penting… atau mengisinya dengan cerita-cerita pengalaman berharga yang ia pikir lebih ‘berisi’ daripada curhatan.

Well, asal tahu saja. Setiap manusia terlahir dengan kekurangan dan kelebihan masing-masing.
Standar ‘bermanfaat’ di sini juga gak jelas toh?
Baik bagimu, belum tentu baik bagiku.
Baik bagiku, belum tentu juga baik bagi mereka.
So, don’t buzz about ‘worth’!!!

Saya yakin, apa yang saya tumpahkan di sini bisa lebih berarti dari sekedar ‘mencurahkan isi hati’.
Karena setiap manusia punya cerita, di sana terkandung ribuan makna yang tersirat. Saya berbicara soal kekesalan, maka tak hanya kekesalan saja yang dapat orang lain tangkap. That we’re human, and everything can be very complex.That could be something behind it!

Saya jadi teringat dengan postingan salah satu teman yang saya kutip di posting saya sebelumnya (baca: “Allah… Could I Keep This Deep-Curiousity of Your Big Secret???”). Mungkin bagi anda yang setali tiga uang dengan golongan orang-orang yang berpendapat blog sespesies dengan punya saya ini gak penting, kutipan curhatan teman saya itu bisa jadi tak kalah gak pentingnya. Namun coba lihat, betapa secuplik puisi yang dia buat dapat menyentuh hati saya hingga saya tergerak untuk membahasnya sepanjang postingan itu. Dahsyat kan??

Hingga saya sampai pada kesimpulan, bahwa ternyata saya tidak sendiri. Saya tidak sendiri mengharapkan someone THE ONE yang Allah simpan bagi kami, bagi kita.
Until I get the conclusion that: Be calm, brother. All we can do is just wait, just be patience.
Yakin deh, Allah gak akan pernah berniat buat nyiksa hambaNya di tengah terpaan badai cinta, di dalam perasaan kasih-tak-sampai hingga berlarut-larut. Bagi Diaz—pihak laki-laki yang ditakdirkan untuk berburu—perasaan itu mungkin menyakitkan. Ditolak (or, whatever it’s called…). Sementara bagi saya—pihak perempuan yang memang ditakdirkan untuk menunggu—waktu dan ketidakjelasan itu rasanya lama dan membunuh.

But, are you dare enough to doubt Allah’s decisions???

Hehe… gila aja kalo loe berani. Tolol namanya!

Humm… gak ada yang sia-sia kok di dunia ini.

Biar dikata blog gue tetep gak mutu, ya monggo.

Here I am what I am.
Keep talking in silence… ssstt…

Senin, September 29, 2008

5Th Semester: A Fight Against Sleepness and Laziness

Apa kabar dunia? (seems you’re better without me, hixhixhix)

Sudah lama tidak mengisi blog, rasanya membuat saya kehilangan lebih dari separuh kemampuan menulis saya (suerr, sampai rada heran aja saat membaca posting sebelum-sebelumnya. Bahasa gue “joss” bangett, hehehe).


Semester ganjil kali ini seperti biasa terasa berat. Entah, karena saya punya pengalaman buruk di semester ganjil yang lalu, or just because it is…

Semester 5 ini diawali oleh tragedi “Bolongnya-Tugas-DKV 3” (T_T).


Tugas DKV 3 yang berupa brosur wisata religi Ampel tersebut secara mengenaskan teronggok di sudut rumah setelah ditolak dikumpulkan oleh dosen saya. Gara-gara TELAT. Miris sekali, mengingat betapa saya bekerja sangat keras untuk membuat brosur tersebut. Mulai hunting foto, survey lokasi Ampel, wawancara petugas, mengurus surat perizinan, sampai didamprat peziarah tak dikenal gara-gara ngobrol dengan bule yang kebetulan tanpa pamit memasuki masjid (gue dikirain tourist guide-nya! Ahahaha… shit!). Belum lagi menerjemahkan semua isi brosur ke dalam bahasa Inggris (brosur saya ini memang target segment-nya pengunjung mancanegara) di kala level English vocabulary saya lagi jongkok. Proses asistensi yang panjang dan sangat ketat juga semakin memperberat tugas yang bobotnya 10% ini. But the end is: it was rejected. AAAAARRGHHH!!!!


Kalau dirunut kejadiannya sih, sebenarnya saya bisa mengumpulkan tugas ini tepat waktu.

Sejak pukul 20.00 (Minggu malamnya), saya sudah cabut ke Cido Klampis (gila ya? Benowo gak ada digital printing yang bagus sih. Jadinya buat nge-print aja gue kudu ke ITS malem-malem… XP). Selesai nge-print sekitar pukul 22.30, soalnya yang ngantri banyak juga. Gak sampai pukul 23.00 lewat, saya sudah sampai di rumah. Sampai rumah, sholat dulu, makan dulu. Setelah itu, saya mengerjakan brosur asistensian teman saya (soalnya udah janji bantuin dia. Kasihan, dari 5 brosur digital, dia cuman ngerjain 1 brosur final yang buat dikumpulin itu. Saya pun menawarkan bantuan buat saya bikinkan 2 brosur lainnya).


Pukul 03.00, brosur buat teman saya itu kelar. Tapi masih sebiji doang. Saya mulai mengantuk, tuk, tuk… sambil laporan ke empunya order buat izin tidur dulu… habisnya ngantuk, seharian udah gak tidur. Bangun-bangun sudah pukul 03.30. Saya buru-buru sahur lalu gantian mengerjakan portofolio buat saya sendiri. Pukul 05.30, portofolio baru selesai. Setengah panik, saya nge-print brosur teman saya yang tadi & portofolio punya saya sambil mempertimbangkan opsi sebaiknya-saya-membantu-mengerjakan-brosur-teman-saya-itu-sebiji-saja. Karena pukul 06.00, saya masih di rumah. Dengan perhitungan perjalanan ke kampus memakan waktu 1 jam, saya bisa telat karena saya belum mandi, mempersiapkan portofolio, dan tetek bengeknya. Saya hampir pasti tiba di kampus mepet sekali.


Saya sms dia—menceritakan masalah yang tengah saya hadapi dan alasan kenapa saya cuman sanggup bikinkan 1 brosur saja. Tapi balasannya bikin gak tega. Dia benar-benar berharap saya membuatkan 2 brosur untuknya, meskipun kemarin malam saya sudah bilang saya pasti membuatkan 1 brosur. Satunya, saya gak bisa menjamin.

Secepat kilat saya membuatkan 1 brosur lagi untuknya. Copy, paste, a little design. Sim salabim, selesai sudah! But o-oouw…. jam di dinding sudah menunjukkan pukul 06.45. Tamat riwayat saya! Saya sudah jelas terlambat. Namun, saya masih mencoba menghibur diri. ‘Masih boleh kok, gak akan ditolak’, gumam saya dalam hati.


Dua ratus meter sebelum kampus, seorang teman saya yang lain sudah menanyakan keberadaan saya dan memberikan kabar buruk bahwa dosen saya sudah mengunci rapat-rapat kesempatan mengumpulkan tugas bagi siapa saja yang terlambat saat itu juga. Saya langsung lemas, tapi mencoba tetap tegar. Saya yakin bahwa saya pasti masih punya kesempatan, sekecil apapun itu.


Namun sekali pelajaran tetaplah pelajaran. Sesampai di depan studio, telah berjajar teman-teman saya yang bernasib sama dengan muka tak kalah masam. Ini benar-benar terjadi, tak perduli berapa banyak mahasiswa yang akan absen mengumpulkan tugas ini. Hingga tugas teman-teman yang tepat waktu dinilai, dosen tak kunjung memberikan ampun.


Rasanya jengkeeeeel banget. Tapi saya bisa nyalahin siapa coba? Gak ada.

Saya gak patut menyalahkan, apalagi gak ikhlas mbantuin teman saya bikin brosur itu. Bukan, bukan itu.

But dunno… it was all my fault, my stupidity. Kenapa selalu telat sih, Mit? Kenapa???!!!

Jujur aja, aku iki areke ngantukan. Capek dikit, ngantuk. Berharap waktu akan membangunkanku dari tidur panjang malam itu, tapi begitu bangun… mata ini serasa dipukul melihat jarum jam yang mengapa telah lari begitu kencangnya.


Seandainya pagi itu saya tak tidur, mungkin saya bisa mengumpulkan tugas tepat waktu (plus, tetap membantu teman saya mengerjakan brosurnya).


Semester ganjil selalu saya bilang berat, karena saya harus berjuang melawan 2 hal.

Kurikulum.

Dan diri saya sendiri.

Melawan kemalasan dan rasa kantuk saya sendiri.

Melawan segala kenyamanan dan kemudahan yang saya dapat pada semester sebelumnya.

Semester ganjil selalu menjadi tantangan, karena di semester ini waktunya menentukan ‘ritme kerja’.


Once you get loose… you’ll get loose forever.

Humm… while I promise it’s gonna happen just once.

Once in yesterday.

One brochure I had left.

Kyaaa-kyaaaa-kyaaaaaa!!!!!

O(~o~)O

Rabu, Juli 16, 2008

Enjoy Life With Yamaha (It's A Photography Contest)



Gak nyangka... saia bener2 speechless begitu dinyatakan sebagai pemenang....
Duh.. gak bisa ngomong ini aq.... (^3^)
Buat temen2 yg udah ndoa'in... wish you all the best too....!
Alhamdulillahirobbil alamiiin....

Kamis, Juni 26, 2008

Masuk Rumah Sakit!


Huhuhuhuhuuuuu…….hiks-hiksh-hiks-hiks…….kaing! (sebelum cerita, nangis dulu…)


Hari yang kelabu.

Hari ini ‘suami’ saya sudah terhitung resmi 2 hari masuk ‘rumah sakit’!
Buat yang diam-diam memendam perasaan ke saya, tenang aja kok. Sebenernya nih bukan suami beneran… jadi saya belom nikah. ‘Suami’ saya ini namanya Mas EOS Rebel XTi, alias Canon 400D tersayang.

Hari Senin kemarin, tiba-tiba saya dapat kabar dari seorang teman yang sehari sebelumnya meminjam suami saya. Katanya suami saya itu rewel, minta di-turn off terus baru mau njepret. Trus, kalau dipake njepret menggunakan flash internal, gak nyala juga,,, trus minta di-turn off lagi. Tapi setelah itu baek-baek saja. Tidak lama kemudian dengan manjanya pula, minta di-turn off lagi, dan seterusnya. Pokoknya bandel lah!

Saya pun teringat baterainya yang memang sudah rewel duluan. Baterainya itu drop, di-charge tapi gak pernah mau penuh… indikatornya separuh terus. Otomatis saya menduga masalahnya mungkin bermula dari kebejatan baterainya.

Siang-siang bolong, saya akhirnya nyolong-nyolong nge-net di rumah,, cari info bagaimana menyembuhkan baterai dan kamera saya itu. Pas ketemu satu topic yang cocok, saya mendadak ditampar oleh jawaban salah seorang komentator.

“Dibawa ke servisnya aja tuh. Kan masih garansi…”
(suara malaikat ala PlantTycoon bergemuruh, disusul bunyi alarm meraung-raung)
Oh shit! Iyaya…? Kan masih garansi???

Tergopoh-gopoh, saya menarik tuas lemari untuk membongkar isinya demi secarik kertas kartu garansi. Mata saya makin membelalak lebar begitu melihat tanggal pembelian ‘suami’ saya itu. 23 Januari 2007. APAAAAA? Berarti hari ni tepat setahun!!!

PANIK, PANIK, PANIK!!!!!
Gimana enggak, kalau masa garansi berlaku satu tahun, berarti hari ini adalah hari terakhir masa berlakunya. Tamat sudah riwayat kamera saya kalau tidak segera dilarikan ke sana!

Dengan wajah seperti kucing yang ekornya kebakaran, Supra lusuh (soalnya udah 4 bulan belom saya cuci, hehhehe..) saya langsung saya larikan ke ITS dan ngambil tuh kamera di Nurul--si peminjam kamera--untuk meminta penjelasan lebih lanjut perihal 'suami' saya itu. Nyampe sana, saya baru diberi tahu kalau kena error 99!!! Penyakit kamera EOS 3digit lensa adek (KIT) yang tersohor itu.

Sedih.
Perih.
Hati teriris-iris.


Padahal 2 minggu lagi ada lomba.
1 minggu lagi ada Parade Budaya.
Tentunya momen-momen yang memanjakan mata lensa kamera saya itu akan dengan muluuusssss terlewatkan.

Yah... nasiiippp....
Untuk mengobati rasa kangen ke EOS 3 digit tercintaku, insyaAllah saya bakal aplot foto2 yang belom sempet tak pamerin ke sini....
Sembari sabar menunggu bisa motret lagi...
(^-^)


*Foto terakhir bersama 'suami' andalan...*

Welcome Holiday, Goodbye Holiday

Liburan 2 bulan yang dinanti telah tiba. Hoaaah... rasanya lega melihat rumah bersih tanpa kertas-kertas dan cat-cat berserakan di rumah. Pikiran serasa enteng tak karuan. Kuliah di Despro memang menyenangkan—otak kanan dibuat menari-nari bebas. Namun ternyata liburan itu jauuuuuh lebih menyenangkan!

Banyak hal yang sudah saya rencanakan untuk mengisi liburan saya. Intinya ialah belajar hal-hal baru dan mengasah apa-apa yang sudah saya kuasai. Karena ilmu sesungguhnya tak berujung. Kalau ada yang merasa sudah cukup dengan ilmu yang dia miliki, celaka tuh orang! (hehhe…)
Dua bulan ini, saya sudah merencanakan untuk belajar software yang nanti akan dibutuhkan saat kuliah semester depan. Mata kuliah Audio Visual akan menuntut saya untuk gape Adobe AfterEffect, Adobe Flash, 3DsMax, serta Adobe Premiere. Mata kuliah Komputer Grafis membuat saya harus bekerja ekstra dengan Adobe Photoshop (yang dari dulu-dulu bikin saya pusing-sing-sing!). Saya juga tak boleh bosan dengan Adobe Illustrator sebab tracing dan konco-konconya dijamin bakal membabat habis kesabaran kalau saya tidak enjoy. Pokoknya, asal semuanya bisa….. insya Allah tuh kerjaan bisa diselesaikan dengan mudah.

Tapi yang cukup mengganggu, saya hampir pasti akan menghabiskan liburan ini total di kota Surabaya yang laknat ini! Aaaaargh… how miserable I am if I spend my whole life totally in this city! Stuck rasanya! God…. I hardly want to travel… Saya udah lahir, idup, makan, tidur, makan lagi, tidur lagi (?) di kota di mana prostitusi sama dengan sebongkah emas. Please… pengen banget saya jalan-jalan, memanjakan mata saya dan mata ‘suami’ saya ke luar kota.

Saya memang tipe anak kota yang (sungguh) rumahan. Orangtua gak hobi jalan-jalan, bahkan untuk sekedar melepas kepenatan dengan mengajak keluar seisi rumah, bercengkrama di tengah malam kota Surabaya. Sekalipun! Jadinya ya… tercetaklah generasi-generasi rumahan yang idupnya (bahkan mungkin matinya juga) di Surabaya.
So harap maklum bila saya bisa sangat merasa sedih melihat teman-teman (baik yang itu fotografer maupun yang bukan) memamerkan foto-foto jepretan mereka. Rasa bangga sepertinya hinggap di pelupuk mata mereka ketika siapapun terusik untuk bertanya, “itu motret di mana?”, atau “itu pas kamu jalan-jalan kemana?” Huh….. dan akhirnya akan terucap nama-nama tempat asing yang mungkin tak akan pernah saya kunjungi seumur hidup.

Fakta yang semakin membuat saya sedih adalah betapa mereka mudah bepergian. Entah karena memang kebanyakan uang sehingga dengan enteng dan cepat bisa meluncur ke tempat yang diinginkan… atau faktor banyaknya teman-teman yang sama-sama suka travelling, jadinya ayo aja kalau diajakin jalan-jalan.

Sementara saya? Okelah… karena saya bukan bawaan orok terlahir jadi orang beruang, alternatif backpacking selalu saya tawarkan ke teman-teman biar saya diajak. Alhamdulillah saya bukan tipe cewek genit-cerewet-yang-ribut-soal-dandanan-serta-tukang-ngeluh, jadi gak masalah kalau mau diajak jalan-jalan keluar kota pakai sepeda motor sekalipun (lha emang Ghost-Rider kok aslinya!). Syarat-syarat lain yang saya ajukan biasanya cuman 2: ada temen ceweknya (yah iya dong…) dan tidak bepergian lebih dari satu hari. Tapi tetep aja, gak ada yang mau ngajakin.

Kegagalan pertama: selalu gak ada temen cewek yang bersedia nemenin. Alasannya macam-macam. Ada yang gak dibolehin orangtuanya bepergian naik sepeda motor lah, ada yang gak boleh jauh-jauh lah, delele.

Kegagalan kedua: budget saya gak bisa segede mereka yang hobi travelling. Event-event hunting fotografer selalu mencantumkan syarat duit ratusan rebu bagi yang mau ikut. Kalau begitu saya cuma bisa ngemut-ngemut ‘tikus’, meratapi layar monitor yang begitu kejamnya memberikan saya gambaran betapa uang itu (seolah-olah) menentukan kadar kebahagiaan seseorang.

Beberapa hari yang lalu, saya browsing ke FN (Fotografer.Net—situs komunitas pecinta fotografi), mencoba memelototi mungkin ada acara hunting gratis yang diadakan fotografer Surabaya. Ternyata tidak ada (yah… yang kere biarlah menderita. Yang kaya terus maju saja). Sambil browsing, saya YM-an dengan sahabat SMA. Dia penghobi travelling juga, tapi sayangnya cowok (dan hobi travelling-nya dengan cowok-cowok pula). Saya terus merayu dia, kapan nih diadakan reuni temen-temen sekelas keluar kota (karena seingat saya dia pernah berencana mengadakan). Dia bilang dia sibuk. Kalaupun sudah tidak sibuk, dia bilang dia sudah terlanjur janji dengan temen-temen kuliahnya untuk pergi ke Jogja bulan depan. Oke… saya semakin sedih dibuatnya.

Tanpa saya sadari, perlahan-lahan air mata saya menitik (bukan titik lagi deh perasaan… tapi huruf L yang panjang). Saya benar-benar sedih menghadapai kenyataan mengesalkan seperti itu. Please notify: I BLOODY WANT TO TRAVEL, OKAY??!!! Jadi ketika dia memamerkan diri bulan depan mau ke Jogja, dengan teman-teman kuliahnya pula… saya jadi remuk redam. Apa saya begitu kesepiannya, gak punya teman, sampai nyari temen cewek sebijiiii aja buat nemenin travelling saya gak bisa??? Apa saya sudah dikutuk jadi manusia Tugu Pahlawan seumur hidup sampai saya gak bisa kemana-mana???
Is life so that cruel?

Jujur, saya ingin berkarya. Satu-satunya yang saya cintai dan saya mampu (mungkin) cuma fotografi. Saya sendiri (ngaku nih…), lemah di ilustrasi. Mungkin dengan liburan saya ngotot belajar software ini-itu hanya untuk menutupi sedikit dari kelemahan tersebut. Namun soal menghilangkan cacat seluruhnya, saya gak tau. Yang jelas, saya harus berusaha sekuat tenaga meskipun saya tahu diri yang lebih jago itu BUANYAK. Untuk melampaui mereka, jelas saya udah ketinggalan start.

But photography without travelling? Just go to hell! Bahasa Jowone: “matek ae!” Sudah terlalu lama saya tenggelam di dunia perkuliahan, menanggalkan hasrat motret saya sejenak. Maka kini saatnya saya beraksi… berkarya sebanyak mungkin. Mengabadikan setiap detik tingkah polah manusiaNya, menjadi saksi keindahanNya yang terlukis di alam, menghirup denyut bumi yang hampir binasa karena ulah manusia sendiri. Setiap momen tak ingin saya lewatkan. Sungguh…

Liburan 2 bulan saya sudah berjalan 1 minggu. Baru seumur jagung. Mungkin lebih baik saya berhenti bermimpi. Kubur saja angan-angan travelling. Tak banyak yang bisa saya lakukan kalau hanya meratapi nasib kayak gini, hahha.

Saya sendiri juga gak tahu kelak apakah saya benar-benar digariskan jadi fotografer. Bukan tidak mungkin kan, nanti saya jadi desainer, pengusaha, penulis, editor majalah, wartawan, jadi apa saja. Toh, saya tahu saya punya banyak talenta. Jadi, nikmati saja yang lagi ada dan mumpung masih ada.

Saya teringat dulu terobsesi jadi ‘fotografer kota’ setelah melihat blog seorang fotografer asal Inggris (saya lupa namanya). Judul blognya “Daily London”. Seperti judulnya, si fotografer ini memotret sudut-sudut kota London dengan apik. Hebatnya, dia disponsori oleh vendor tersohor, Olympus, karena hasil jepretannya itu. Menyadari status ‘tahanan kota’ saya, saya jadi terinspirasi untuk melakukan hal yang sama, yaitu memotret setiap sudut kota Surabaya. Siapa tahu, nanti disponsori Canon (ngayal gak ada salahanya thooo?).

Semoga mimpi itu tak akan luntur. Itung-itung, mengobati sakit hati gara-gara gak bisa travelling, heheh. Amin.

the ARTwork-Artika
Hell-city Surabaya, 22nd of June 2008



Minggu, Maret 23, 2008

Allah... Could I Keep This Deep-Curiousity of Your Secret???

Udah empat tahun gw jadi secret admirer ndak jelas kayak gini. pertama tama liat dulu ndak berani ngomong sama sekali.. sampe tiga tahun berlalu dengan mudahnya..

lalu setahun yg lalu, dia tiba tiba aja ada di deketku. aku ga tahu harus bagaimana.. coba untuk lari melupakannya. tapi kecintaanku pada KSR membawaku kembali berada di deketnya.
cuma bisa ngobrol tentang tugas. cuma bisa melihat senyum yg dulu aku haramkan untuk diriku. cuma bisa berdoa, semoga aku bisa sabar..hiks

trus kemaren,
ada momen diklatsar KSR-PMI..
ada dia,
ada orang yg sangat mencintainya dan paling pantas mencintainya
dan ada aku, orang aneh yg cuma bisa ngacau...

....

Why I always trapped like this?
another moment come and just passed away
What should i do?
What can I do?
It's really hurts and painful if you know that you can't do ANYTHING when she was crying....
It's really hurts and painful if you know that all you can do just listen and listen and listen....
I wish you knew this pain inside

If only i'm in different situation and condition
If only i'm an adult
If only i'm mature enough
If only i'm ready
I'll come to her and gently say
"WILL YOU MARRY ME ??"
Yes it's true..

Yes I care about you
Yes I worry about you
Yes I think about you
Yes I want to take you out from your ruined world
No I dont care about your past
Yes I can tolerance your weaknesses
Yes I want to change you
Yes I want to raise your high
Yes I want to make you think that you're precious
Yes I will be your guide
Yes I do ..... cherish you

However (again), this is me....... the one who always can't do anything but pray
My way is still far to go..... if she can wait
I can't do anything right now...
But I’ll find my way to her...
And if the time won't help me, and if my fate is not her...
It's okay....
I pray the best for me...
and I pray the best for her too..
Coz..
Her happiness is my happiness..

And the time will answers....
If she's the one for me...
or she's not...


"Dan tidak ada dosa bagi kamu meminang wanita-wanita itu dengan sindiran atau kamu menyembunyikan (keinginan mengawini mereka) dalam hatimu. Allah mengetahui bahwa kamu akan menyebut-nyebut mereka, dalam pada itu janganlah kamu mengadakan janji kawin dengan mereka secara rahasia, kecuali sekedar mengucapkan (kepada mereka) perkataan yang makruf. Dan janganlah kamu berazam (bertetap hati) untuk berakad nikah, sebelum habis idahnya. Dan ketahuilah bahwasanya Allah mengetahui apa yang ada dalam hatimu; maka takutlah kepada-Nya, dan ketahuilah bahwa Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyantun."
- Al Baqarah : 235 -



Barusan jalan2 ke blog orang2 yang punya blog. Sebenarnya bukan karena saya tipe orang yang care terhadap teman (weleh... jahatnyaa..).
Ngaku... sebenernya nih lagi stress abis 17 jam ngerjain Graphic Standard Manual, but now I'm trapped in this long-lasting-sending-email-to-my-lecturer. SHIT! Blom lagi, kalopun belum kelar dari penungguan tidak jelas ini, saya masih harus mengerjakan Kuesoner MetDes (yang rata-rata menghabiskan 5 jam), menyusun jadwal shift buat yang jaga stand PIMITS-nya Despro, trus ngerjain rough design Tipografi hasil konsultasi dengan dosen supernyeleneh--Pak SAYATman (nama kecilnya pasti SAYATboy, heheh...).

Yang saya cetak miring-miring di atas itu adalah hasil pembajakan atas kekayaan inTELEKtual seorang (calon) dokter gila bernama Diaz Adi Pradana.
Sekilas tentang Diaz... cukup singkat. ANEH pokoknya. Saya masih bisa mendeteksi kejeniusan otaknya meskipun dalam radius ITS-UNAIR. Buktinya dia keterima di Kampus-Paling-Mahal-Susah-dan-Rawan-KKN, hohoho... Kedokteran. Dan saya juga sempat menjadi salah satu saksi kebejatannya yang tidak sengaja ketika dia memberi julukan 'seperti pelacur' kepada teman sekelas yang orang baik-baik (may Allah forgives you, Yaz... amin).


Saya benar-benar pengen nangis sekaligus tertawa membaca blog-nya.
Nangis... karena sebenarnya masalah tiap orang tu pada dasarnya sama saat jatuh cinta.
Ya... kalau menurut teori yang dikasih pak Sabar di mata kuliah Metode Desain (okay... Reminding this makes me so desperately wants to survive next year with the JUNIOR! Noooooo!!!!!). Masalah ialah adanya gap antara yang terjadi dengan yang seharusnya terjadi. Intinya... apa yang kita inginkan tidak sesuai dengan kenyataan.

Love.
Cinta.
Tak akan pernah ada habisnya.


Saya termasuk orang yang mudah jatuh cinta. Entah karena obsesif, atau keinginan atas cerita kehidupan yang lebih indah--kelihatannya. Keinginan untuk memiliki... jelas ada terselip dalam hati. Dan terkadang perjalanan fantasi itu membawa saya terlalu jauh... namun saya tak peduli ia akan membawa saya ke mana. Saya menikmatinya.

Hingga saya tersadar bahwa cinta-cinta itu terasa seperti angin. Tangan saya tak cukup mampu untuk menggenggamnya... karena angin itu makhluk bebas. Jemari saya terlalu rapuh untuk menyekapnya,,,

Lucu juga sebenarnya. Saya terlalu sibuk mencinta, sampai-sampai rasanya pedih ketika saya menyadari bahwa saya tak dicintai.
Kalau nyambung dengan blog-nya Diaz tadi... hmm... how lucky that girl.
I mean... gak banyak laki-ikhwan-cowok-pria yang dengan tegas meskipun dalam hati berkomitmen baginya.

Yes I care about you
Yes I worry about you
Yes I think about you
Yes I want to take you out from your ruined world
No I dont care about your past
Yes I can tolerance your weaknesses
Yes I want to change you
Yes I want to raise your high
Yes I want to make you think that you're precious
Yes I will be your guide
Yes I do ..... cherish you


Huuumpfh... so, who's my guide, my Lord Allah?
I know it's all Your secret, and I'll be impolite if I ask You to fasten it...

But... How could I keep this deep-curiousity of Your BIG secret???


Rasanya sudah lama saya mencinta tanpa dicinta (duileeeh! Cuih! Gak gue banget nih bahasanya. tapi mo gimana lageee??? Hiks-hiks).
Rasanya gak mungkin banget mendapatkan seseorang yang saya inginkan tapi dia (mereka--dalam kasus ini saya terlalu banyak naksir orang...). Or I'm not in his level (jadi inget naksir mas Pink yang Mawapres itu... ENOUGH! ENOUGH! Gak mungkin.... hoahahaha!).

Atau mungkin bagi saya berlaku pepatah basi yang menyayat hati seperti:
"Cinta itu tak harus memiliki" (hachih! Kalo emang iya, kenapa kemaren Pak Sabar tidak meluluskan saya MetDes 1 aja dengan nilai C????)

Saya ingat wejangan superkonyol yang ternyata superpenting juga dari pak Djoko Kuswanto, dose wali tercinta.
"Masa-masa itu (menikah) mungkin kelihatannya masih jauh. Tapi, lama kelamaan akan terasa dekat juga.."

Betull Pak! Apalagi tadi habis baca blog-nya Diaz....
God... I really miss my Prince.
Really.
Tapi mau gimana lagi?

Berkali-kali sobat saya di FK, Icha... menenangkan hati saya kalau saya lagi patah hati (terakhir kali sama Mas Ganteng sejurusan. Ampun deeh....). Dia bilang, pasti ada Pangeran di sana yang nunggu kamu. Dia menerima kamu apa adanya, mencintaimu sepenuh jiwa, menghiburmu dengan suka hati (sumpe lo Cha? Biar dikata gue endut, item, tukang tidur, dan gak jelas gini masa depannya?). Mas Ganteng nggak ngelirik kamu buat dijadiin istri bukan berarti kamu low-quality. Tapi dia-nya aja yang terlalu bodoh tidak menyadarinya. Cuma Pangeranmu nanti aja yang tau, Tik... (nah... ini dia salah satu kehebatan fungsi punya sahabat. Biar dikata sobatnya ancur gak ketulungan, Ikhwan yang Ganteng ma Alim aja dibilang bego gak milih gua...).

Cha... asal kamu tahu gimana rasanya jadi ban serep dan pilihan terakhir kalo orang mo cari istri.
Asal kamu tahu gimana rasanya jadi bahan lelucon cowok-cowok yang merasa pantas menghinamu.
Asal kamu tahu betapa menyedihkannya jadi kaum marginal atas hal-hal tak masuk akal yang masuk dalam kriteria.

You can say more.

But... okay...
This is life.

Saya yakin, Allah punya rahasia besar yang nggak akan jadi besar lagi kalo dibocorin sekarang.
All I can do just waiting and waiting (berhubung gua cewek. Kalo mungkin ntar udah mo jadi perawan tua, gua ngajuin diri ke salah satu mantan gebetan ajah kali yah? Kan boleh, Cha??? Hehehe...

Kata Mas Hadi, suami Mbak mentorku ngaji... cinta itu kata kerja. Jadi, bisa diadakan atau diciptakan.
Cinta bukan otak yang udah paten di otak (tapi kalo jatuh cinta keinget2nya bisa sampe gak sanggup tidur juga siiih...).

Wish I...
Wish I...
Wish I...

Amin.
(
Mas Mawaprees.... I'm comiiiing!!! Lhoh???!!!)